Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa lebih dari 1.300 orang meninggal dunia akibat gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai negara di Eropa sejak 21 Juni 2026. Suhu tinggi yang terus berlangsung telah meningkatkan angka kematian, terutama di kalangan kelompok rentan seperti lansia, sekaligus membebani layanan kesehatan di sejumlah negara.

Baca Juga: Meksiko Kokoh di Puncak Grup A, Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut gelombang panas sebagai "pembunuh senyap" karena banyak bangunan, tempat kerja, dan sekolah di Eropa belum dirancang untuk menghadapi suhu ekstrem. Ia juga menegaskan bahwa Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Di Prancis saja, otoritas kesehatan melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan selama gelombang panas tersebut. Sementara itu, jutaan warga di berbagai negara Eropa menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius yang menyebabkan gangguan pada layanan transportasi, sistem kelistrikan, hingga aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Presiden Venezuela Umumkan Keadaan Darurat Usai Diguncang 2 Kali Gempa Dahsyat

WHO pun mengimbau negara-negara Eropa untuk memperkuat kesiapsiagaan melalui penerapan rencana aksi kesehatan menghadapi cuaca panas ekstrem. Organisasi itu menilai perubahan iklim telah membuat fenomena yang sebelumnya terjadi sekali dalam beberapa dekade kini muncul hampir setiap tahun, sehingga diperlukan langkah adaptasi yang lebih kuat untuk melindungi masyarakat.

source: WHO: 1.300 Orang Tewas Imbas Gelombang Panas Ekstrem di Eropa